Login

Register

Login

Register

Puncak Komedi Berupa Cacian dan Pembalasan Brutal di Gelaran “Balas di 17”

Blog - August 16, 2022

Di pertengahan bulan Mei, saya sudah mendengar informasi yang bergulir soal adanya acara roasting dari Pandji Pragiwaksono. Sebuah momen yang bisa disempat-sempatkan, mumpung beliau belum kembali merintis jadi komika daerah di New York.

Kala itu yang menyampaikan informasinya adalah Aldyajadong, seorang perintis grup Comedy Junkies dan juga talenta dari Majelis Lucu Indonesia. Setelah posternya keluar, saya menemukan sendiri jajaran line-up yang akan meroasting direktur kami itu. Kesan pertama tentu sedikit pesimis, mengingat beberapa nama tidak terlalu ada singgungan dengan Pandji. Kala itu saya sedang berada di lantai dua Markas Comika, dan berhadapan dengan beberapa karyawan/komika di Comika yang sekali membuka mulut bisa mengeluarkan cacian untuk Pandji.

Waktu berlalu, sampailah di acara tersebut. Gelaran ini dihelat satu malam sebelum Pandji berulang tahun ke 43, di tanggal 18 Juni 2022. Studio Comika Space penuh terisi penonton yang penasaran bagaimana Pandji dihina-hina komika yang namanya baru meroket.

Brutal

Sudah semestinya acara roasting itu kejam. Namun kekejaman para roaster berada di tingkatan yang berbeda. Lebih tepatnya, brutal.

Dua pemandu acara yakni Bonar dan Rizky Teguh melakukan pekerjaannya dengan baik, terbukti penonton hangat sejak roaster pertama tampil: Ilham Setyadi. Ilham bukan yang paling garang dari semua. Khas penampil pertama, ia membuka penampilannya dengan materi receh semua senang, disambung dengan beberapa anekdot soal Pandji. Terutama, soal bagaimana sebenarnya dia tidak ada urusan dengan Pandji.

Bersamaan dengan keringatnya yang mengucur deras, Ilham mencari kontras di mana penonton berharap ada ‘rahasia jahat’ yang tidak mereka tahu diungkap olehnya, namun informasi yang dibeber adalah sepatu fancy yang ia pakai ternyata pemberian Pandji.

Momen paling gerrr dari Ilham adalah ketika ia meroasting Pecahkan. Sang Kepala Sekolah, Ulwan Fakhri, nampaknya akan bahagia karena materi-materi Ilham bisa ia ambil untuk tambahan keresahan tentang pekerjaan.

Ia menutup penampilannya dengan menyamakan Pandji dengan Ahmad Dhani. Saya tidak menyangka kalau Pandji punya bakat jadi frontman angkuh band legendaris. Setidaknya, Comika akan jadi perusahaan yang legendaris juga. (amin!)

Roaster kedua adalah Fikri Skoy. Pemuda Betawi yang naik ke panggung Balasdi17 dengan membawa sedikit keresahan tentang Pandji: karena video dirinya ditanya Pandji terkait salah satu ormas, beberapa merek menarik endorse-an mereka ke Fikri.

Komika Jakarta Timur ini langsung menohok ke tempat yang seharusnya juicy untuk dibahas dari awal, yakni karir hip-hop dan juga film yang gagal. Dan ini berhasil memeras tawa penonton.

Satu hal yang ingin saya bahas tentu rasa tidak enak yang terlihat nyata terpancar dari Fikri. Rasa sungkan kentara dari gerik non-verbal juga intonasinya. Jangan salah, roastingannya pedas dan lucu. Salah satu yang terlucu bahkan. Namun dugaan saya soal “sungkan” ini nampaknya sahih ketika ia turun duluan dalam keadaan lupa mempresent roaster selanjutnya: Duto Triadjie.

Duto, dikenal sebagai konten kreator juga komika yang materinya cerdas, memperlakukan roasting selayaknya seperti kita menonton acara “Roast Of” di Comedy Central: membahas semua penampil, bahkan membahas yang belum tampil. Semuanya kejam. Roasting yang ia sampaikan ke roaster lain, berdasar dari ranah privasi yang diumbar saja sudah lucu.

Kepada Pandji, Duto keras sekali. Roastingannya meleber ke beberapa aspek lain seperti keluarga, yayasan Pita Kuning, serta Comika.id.

Setelah Duto, Bonar dan Riztegh kembali naik. Mereka membawa poin menarik berupa pembahasan roaster yang mulai ngawur. Pasalnya, Bonar menyebut bahwa jangan membuka dapur Comika, dan jangan bahas keluarga. Sentimen yang ‘main aman.’ Sayangnya jika ini tidak ditabrak, komedinya jadi kurang mucuk ke pinggir jurang. Saya rasa penonton lebih suka yang begini.

Tak cuma itu, Bonar menunjuk kami-kami, para karyawan Comika yang berdiri sambil bersandar tembok, akan membawa keresahan yang lebih tebal dan lucu terhadap Pandji soal pekerjaan. Itu benar.

Dua penampil terakhir, yakni Aldy dan Yudha Khan, adalah yang paling personal. Keduanya adalah mantan karyawan Pandji. Keduanya punya cerita paling unik. Ini adalah titik di mana saya harus mempromosikan Digital Download. Pasalnya, saya tidak akan bisa berbicara banyak di sini, dan kalian harus membelinya sendiri ketika sudah rilis. OK?

Aldyajadong, membawa materi yang sudah pernah dibawa ketika gelaran Komika Comika pertama tahun lalu, yakni soal gaji sebesar 100 ribu. Materi ini adalah irisan antara lucu dan miris. Terletak tepat di tengah sehingga Pandji hanya bisa menutup wajah saja. Ke belakang, apa yang diungkap Aldy lebih cocok disebut materi yang bersumber dari perilaku Pandji ketimbang roasting. Storytelling yang rapi dengan half punch dan twist yang sedap, membuat penampilan Aldy istimewa. Jangan lupa, digital download-nya jangan sampai kelewatan.

Roaster terakhir adalah Yudha. Setelah membalas dan meroasting komika sebelumnya yang tampil, komika Cirebon dan kepala suku Kost The Raid ini langsung membawa sumber ketersinggungan Pandji, kucing. Seekor kucing dibopong menggunakan tas astronot oleh Gilang Durhaka, diletakkan di atas pangkuan Pandji.

Pandji nampaknya kurang familiar dengan kucing, dan ia takut binatang malang itu kencing di denim yang ia pakai. Saya sebagai pecinta kucing dengan bangga menjemput binatang kesayangan Nabi Muhammad SAW tersebut dari panggung karena penonton sibuk tertawa, dan sang pawang terjebak di belakang.

Yudha langsung membuka berbagai aib masa lalu dirinya dan Pandji. Di tengah menuju materi, Pandji sampai teriak tanpa mic, “masa itu mau diceritain?” “Iya,” jawab Yudha. Sebelumnya, banyak senggolan terhadap sang istri hingga lagi-lagi, karir rap Pandji. Banyak hal yang kurang pantas untuk saya deskripsikan di sini, sehingga Digital Download tetap akan jadi ajakan pamungkas saya untuk kamu bisa menikmatinya secara utuh.

Pembalasan yang Mudah

Tiba saatnya Pandji Pragiwaksono melakukan pembalasan untuk meroasting semua penampil. Sesuai deskripsi sub-judul, pembalasan ini nampak mudah bagi Pandji. Melongok ke gagasan humor seperti schadenfreude di mana kemalangan adalah sumber tawa, serta seorang yang superior akan lebih mudah menertawakan yang inferior, Pandji sudah jelas menang telak. Ia lebih kaya, lebih sukses, bagaimanapun akan dibela penonton. Di skena stand-up comedy, ia tidak bisa didebat, dan mereka ini sedang melakukan stand-up comedy. Belum lagi Pandji sudah lama di dunia showbiz, juga guru public speaking. Pandji seakan belum bermain saja sudah menang W.O. Pandji seperti kaum mayoritas yang bagaimanapun pasti menang.

Berbagai sikutan terhadap dirinya, dapat dibalik dengan mudah. Seperti semua cacian Ilham di awal, bisa Pandji bantah dengan berkata ia tidak lucu. Saya tahu betul Ilham adalah komika lucu. Namun sayangnya, kembali ke superioritas, penonton akan lebih percaya Pandji. Pola ini selalu diulang, disebar kepada seluruh roaster.

Pandji saja mengawali pembalasannya dengan berkata, saya memparafrase, “ini adalah komika-komika yang tidak mungkin ada di sini kalau nggak karena gue.” Pandji adalah konduktornya dan nada dasar superioritasnya langsung disetel di awal.

Momen ini panjang sekali, satu orang bisa Pandji bahas selama hampir sepuluh menit. Penonton bahkan membantu untuk mengingatkan dia diroasting apa, lalu Pandji muncul dengan balasan. Sangat menguras mental untuk dipajang di depan panggung dan dicacimaki oleh founder Standupindo.

Di akhir acara, Fuad yang merupakan sahabat Pandji, tandemnya di Bedebah FC dan juga orang yang sering diceritakan di Youtube maupun Siniar Hiduplah Indonesia Maya, turut meroasting Pandji. Ia menutup malam itu dengan pas. Tepat di titik kepuasan penonton.

Acara yang Harus Terjadi Lebih Sering

Jika diringkas, ini adalah acara penuh serangan verbal yang bikin penonton tertawa sambil bergidik. Bahkan sesekali penonton mengerang. Beruntunglah kalian yang tidak nonton langsung karena akan ada Digital Downloadnya. Tentu yang lebih beruntung adalah yang menontonnya secara langsung. Nuansanya sangat berbeda.

Seperti yang diungkap Ferdinand, salah seorang penonton Balasdi17. Ia mengaku senang melihat ada sudut pandang baru tentang Pandji di luar apa yang bisa disimak dari Youtube.

“Acaranya fun, karena jadi tahu banyak hal yang tidak pernah diceritakan oleh Pandji. Bahkan ada dark side-nya juga,” ungkapnya.

Highlight di acara ini adalah Pandji sendiri yang berusaha membalas dan klarifikasi. Untungnya klarifikasinya tidak di podcast Deddy,” ungkap Inand berkelakar. “Komika-komika yang merupakan underdog juga memberi pengalaman yang berbeda untuk acara ini,” tutupnya, sembari memberi dua jempol untuk panitia dan juga penggagas acara ini.

Berbicara soal penggagas, Aldyajadong tentu punya testimoni setelah idenya untuk menjadikan acara ini disetujui oleh Pandji.

“Acara Balasdi17 seru banget, karena ini panggung pertama di karir stand-up gua, gua melakukan roasting, dan roastingnya langsung founder. Itu adalah pengalaman yang seru,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan rasa syukurnya karena Pandji menerima Comedy Junkies dengan tangan terbuka.

“Terima kasih banget buat bang Pandji karena menerima ide gua untuk bikin acara ini, dan welcome sama anak-anak yang naik,” sebut Aldy.

“Pengennya tuh dijadiin rutin, mungkin dua atau tiga bulan sekali, Comedy Junkies bikin acara roasting. Tapi dengan roaster yang sama dengan bintang tamu berbeda,” tambahnya.

“Harapannya, Comedy Junkies bisa bikin roasting lagi tapi dengan founders yang lain. Radit mungkin, atau Ernest,” tutup Aldy.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Patraiarki

BALASDI17

Gemini

Podcast Senen Kemis